Tradisi Sayap Torino – La tradizione del Torino sugli esterni

Le Rubriche – Indole granata / Ahrial Ferri, presidente del Toro Club “IndoTorino”, ci racconta a modo suo il Torino visto dalla lontana Indonesia: protagonisti odierni D’Ambrosio, Darmian, Peres e Zappacosta

di Ahrial Ferri

TRADISI SAYAP TORINO

Torino FC punya tradisi mencetak para pemain sayap yang andal. Bila ingin lebih spefisik, pemain sayap yang juga terampil dalam bertahan.

Dalam enam tahun ke belakang ini, tak kurang dari empat pemain sayap berkualitas yang namanya melejit bersama Il Granata. Hal ini tentunya tak terlepas dari scouting yang tepat dilakukan Gianluca Petrachi sebagai Sporting Director.

Selain itu, faktor formasi juga amat mempengaruhi. Formasi 3-5-2 yang sering digunakan akan sangat membutuhkan peran dari para pemain sayap.

Danilo D’Ambrosio

Pemain kelahiran Naples, Italia ini merupakan bek sayap yang patut diperhitungkan. Semasa masih berseragam Torino, ia bahkan pernah menjabat sebagai kapten dan merupakan pemain inti dari skuad Banteng Turin.

Di musim 2013/2014, D’Ambrosio tampil sebanyak 25 kali dan membuat dua gol serta dua assist. Berkat performanya yang ciamik, ia pun diboyong oleh Inter Milan dan masih bertahan hingga hari ini.

LEGGI ANCHE: Kenali Lebih Dekat Gallo Belotti – Le ragioni per amare il Gallo Belotti

Matteo Darmian

Bersama pelatih Giampiero Ventura, Darmian menjadi salah satu pemain kunci bagi Il Granata. Tak hanya mampu konsisten di setiap laga, pemain yang identik dengan nomor punggung 36 ini juga bisa menjadi protagonis di dalam pertandingan penting.

Tentunya, kita tak akan pernah melupakan gol Darmian saat Torino mengalahkan Juventus di musim 2014/2015 silam. Begitu juga dengan gol di San Mames, markas Athletic Bilbao yang membawa Torino menang 3-2 di babak 32 besar Europa League 2014/2015.

Tak heran ia pun langsung dibeli oleh tim raksasa asal Inggris, Manchester United, pada awal musim 2015/2016.

BERGAMO, ITALY – NOVEMBER 08: Matteo Darmian of FC Internazionale in action during the Serie A match between Atalanta BC and FC Internazionale at Gewiss Stadium on November 8, 2020 in Bergamo, Italy. (Photo by Claudio Villa – Inter/Inter via Getty Images)

Bruno Peres

Pemain sayap yang satu ini mungkin akan selalu dikenang oleh pendukung Granata. Gol hebatnya di kandang Juventus pada musim 2014/2015 sempat menjadi perbincangan hangat tak hanya di Italia tetapi juga di dunia.

Kecepatan dan kemampuannya dalam mengolah si kulit bundar memang tak perlu diragukan lagi. Berkat konsistensinya di sisi sayap kanan, ia pun hengkang ke AS Roma pada musim 2016/2017.

LEGGI ANCHE: Apa Kabar Marco Ferrante? – Come stai Marco Ferrante?

Davide Zappacosta

Zappacosta memiliki kemampuan yang hebat dalam membuat umpan crossing. Di musim 2016/2017, pemain yang diboyong dari Atalnta ini menjadi salah satu pemain sayap berbahaya di Serie A. Alhasil, ia pun sukses mencetak empat assist dan satu gol dari 29 pertandingan pada musim tersebut.

Dua musim membela Torino, Zappacosta akhirnya dibeli oleh Chelsea FC dan sempat unjuk gigi di pentas Uefa Champions League.

Di musim ini, Marco Giampaolo memiliki dua pemain sayap yang juga potensial. Mereka adalah Mergim Vojvoda dan Wilfried Singo. Akankah tradisi sayap Torino ini akan berlanjut? Kita akan lihat!

7 Commenta qui

Inserisci qui il tuo commento

  1. CiHannoRubatoIlToro - 1 settimana fa

    Sono pienamente d’accordo a metà (cit.)

    Rispondi Mi piace Non mi piace
  2. Jume Verda - 1 settimana fa

    Fatto sta che quest’anno a sinistra arranchiamo

    Rispondi Mi piace Non mi piace
  3. generazionenuova - 1 settimana fa

    Come si dice “Singo e’ una spanna sopra a tutti” in indonesiano?

    Rispondi Mi piace Non mi piace
  4. filippo.burdes_10466498 - 1 settimana fa

    Va be ma è una pagina di Wikipedia, non un articolo

    Rispondi Mi piace Non mi piace
  5. papapaolo.p_13652409 - 1 settimana fa

    Non riesco a capire cosa c’e’ scritto, mi sembra un’intervista a Petrachi

    Rispondi Mi piace Non mi piace
  6. luizmuller - 1 settimana fa

    La conferma che quando si osserva da lontano c’è più obiettività. Qui invece mi sembra che spesso si faccia a gara a chi trova più difetti ai nostri, nessuno escluso. Dopo che Belotti sbagliò il rigore contro il Parma, pochi mesi fa, qualcuno il giorno dopo gli diede del “cretino”.

    Rispondi Mi piace Non mi piace
    1. Roland78 - 1 settimana fa

      Ricordo benissimo quel genio, che voleva spiegazioni da Belotti e Sirigu per l’annata balorda… E che ora fa il santo incensando i suoi beniamini come il primo dei tifosi.

      Rispondi Mi piace Non mi piace

Recupera Password

accettazione privacy